Dampak Bisnis Tambang Akibat Menyebarnya Virus Corona

Dunia pertambangan yakni berbagai macam bisnis yang ada, mengalami dampak nyata akibat datangnya wabah corona yang menyerang Indonesia hingga detik ini. Menurut WHO, jika adanya Virus Corona atau Covid-19 ini menjadi sebuah pandemi besar yang mana sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk sampai detik ini masih saja terus bergulir di negara Indonesia. Nah kasus dari Covid – 19 saja sudah ada sejak bulan April tanggal 9 tahun 2020 yang mana sudah menginfeksi lebih dari 1 juta penduduk yang berada di dunia. Terutama sekali di China, yang mana sudah ada sejak bulan Desember akhir di tahun 2019 silam dan mulai menyebar ke beberapa negara lainnya di tahun 2020 pada awal bulan Januari silam. 

Dari kehadiran virus ini, sudah pasti membawa banyak sekali dampak bagi dunia. Termasuk, untuk struktur pertumbuhan perekonomian dan bisnis-bisnis yang ada. Tanpa terkecuali, bisnis di sektor pertambangan juga sudah mengalami hal tersebut, dengan diisi oleh beberapa dampak nyata yang ada di dalamnya. Berikut ini akan kami beritahukan adanya beberapa dampak dari bisnis pertambangan yang pastinya akan memperlambat ekonomi di setiap pekerjanya. 

Berikut ini, adalah beberapa dampak utama yang bisa kalian ketahui dari sektor pertambangan. Dan sedikitnya akan kami beritahukan juga, bagaimana sebenarnya profesi dari dunia pertambangan itu sendiri pada resiko-resiko yang bisa dialami oleh para pekerjanya. 

3 Dampak Utama Hadirnya Corona yang Memperlambat Bisnis Tambang 

Produksi yang ada akan Berkurang – dan dari beberapa negara yang memang sudah melakukan lockdown seperti halnya negara China, lalu India sebagai salah satu negara dengan adanya dampak corona terburuk yang ada di luar China seperti Italy, mereka semua melakukan lockdown yang sudah disesuaikan oleh pemerintahnya masing-masing. Otomatis, dari sini usaha produksi tersebut harus berhenti akibat supply dari beberapa komoditas mengalami penurunan. 

 

Permintaan mengalami Penurunan – dari adanya sektor pertambangan terutama sekali pada sektor batu bara sudah menjadi salah satu sektor komoditas pertambangan yang mana mampu mengalami dampak terbesar dari adanya pandemik ini. Sudah bisa dipastikan permintaan terbesar yang biasanya memang berasal dari negara China – Korea dan negara India, sudah mengalami penurunan yang drastis dari hadirnya permintaan terutama sekali bagi Support kepada industri yang mereka jalani. Virus Corona sendiri akan berdampak terhadap pertumbuhan permintaan dikarenakan perlambatan ekonomi di negara Importir batu bara seperti China dan juga Korea akibat adanya penyebaran Virus Corona itu sendiri. Hal ini sudah pasti akan diakibatkan oleh adanya kebijakan Lockdown yang akan membuat industri di negara itu melambat dalam kurun beberapa waktu. 

Prospek Kedepannya seperti apa ? jadi dari hadirnya beberapa perusahaan yang mulai sekali Khawatir akan adanya keadaan pasar yang memang kurang stabil setelah adanya musim penghujan yang hampir saja selesai. Artinya dalam hal ini sudah masuk ke dalam musim panas yang mana peningkatan dari produksi namun dengan adanya pandemic ini, maka akan berakibat pada sektor pertambangan dikarenakan tidak adanya kepastian kapan pandemi ini bisa berakhir nantinya. Hal inilah yang akan memberikan kewaspadaan pada setiap perusahaan di masa yang akan datang untuk sektor-sektor berikutnya. 

Semua ini memang tak hanya terlihat dari bisnis pertambangan saja, beberapa bisnis lainnya juga terlihat atas dampak menyebarnya virus corona itu sendiri. Terkecuali, di bisnis kuliner yang sepertinya masih berjalan sesuai dari kebutuhannya manusia. Hanya saja, ada sedikit penurunan apstinya akibat pandemi tersebut. 

Resiko atas Keselamatan Kerja pada Pekerja Tambang 

Selama ini kalian mungkin melihat dunia pertambangan bisa membawa Profit yang baik bagi perekonomian, namun kalian harus melihat ada sisi pahit dari para pekerja tambang itu sendiri. Diman mereka selaku pekerja alias penggali tambang akan memiliki ruang kerja terbatas, dimana mereka akan bekerja di bawah tanah dengan meniscayakan adanya lingkungan yang sangat jauh berbeda dibandingkan kerja normal pada umumnya di atas permukaan. Dari sini kalian harus menghitung adanya besar pada bukaan terowongan secara cermat agar nantinya bisa jauh lebih efisien dari sudut biaya yang ada dan akan melihat keamanan ini dari pertimbangan teknis. 

Dan bisa ditarik kesimpulan jika para pekerja dituntut untuk bekerja dalam lingkungan yang memang terbatas. Dan terbatasnya akan ruang sudah sangat jelas sekali akan mempertinggi resiko yang mampu mengancam keselamatan para pekerja itu sendiri. Dan ini masih termasuk ke dalam penyebab atas kecelakaan yang lumayan tinggi diakibatkan terbatasnya ruang itu sendiri. 

Minimnya Penggunaan Cahaya, Menimbulkan Resiko Kecelakaan 

Karena penggali tambang ini juga harus bekerja di dalam perut bumi, berarti mereka harus siap untuk bekerja tanpa terkena sinar cahaya matahari. Nampaknya mereka hampir tidak mengenal mana Siang hari dan mana Malam hari, because almost same. Cahaya yang didapatkan hanya pada bantuan lampu penerangan yang masih minim sekali. Bahkan beberapa dan mungkin saja hampir seluruh pekerja galian tambang ini hanya mengandalkan lampu kepala yang telah di pasang di helm para pekerja itu sendiri. Sebab itu, para pekerja tidak diperbolehkan sendirian, justru harus membawa kawan untuk antisipasi saja. 

Batuan yang Dilewati Mudah Rapuh 

Kami katakan jika batuan yang rapuh menjadi musuh besar bagi dunia pertambangan, termasuk bagi para penggali itu sendiri. Banyak juga penggali yang memperkuat batuan ini dengan menyangga, namun tetap saja mewaspadai diri akan kehadiran kecelakaan yang tak terduga akibat batuan yang rapuh tersebut. Bauan kecil saja mungkin masih standar, namun jika batuannya 4x lipat dari tubuh manusia ? apa yang akan terjadi coba ? untuk itu, meminimalisirkan resiko ini dengan memakai penyangga batuan serta mematuhi berbagai macam prosedur kerja juga perlu sekali diperhatikan bagi setiap pekerjanya. 

Terkadang Muncul Gas Berbahaya dan Beracun 

Dalam dunia pertambangan, Metan menjadi contoh paling populer dengan kadar gas yang sangat berbahaya bagi manusia. Memang Metan ini menjadi senyawa yang sangat ringan sekali untuk dibawa oleh Udara sebab : Tidak memiliki warna, tidak memiliki bau dan juga tidak berbahaya. Berbahayanya bukan pada saat di hirup, memang saat terhirup tidak membawa bahaya. Namun, di tambang batu bara bawah tanah, udara yang mengandung 5-15% Metan dan sekurang-kurangnya adalah 12.1% oksigen ini kemungkinan sekali akan meledak jika nantinya bisa terkena percikan api. Dan itu bisa berakibat fatal pastinya ! 

Selain itu, para pekerja juga sangat rawan sekali mendapatkan gas yang beracun akibat dari sirkulasi terowongan yang memang terbatas. Beberapa gas beracun diantaranya yang bisa kalian temui dalam dunia pertambangan : 

-) CO : Carbon Monoksida 

-) H2S : Hidrogen Sulfida

-) NOx : Mono-Nitrogen Oksida yakni gabungan Nitrogen + Oksigen 

-) SO2 : Sulfur Dioksida 

Banyak sekali nantinya kondisi yang akan membuat kadar-kadar tersebut menjadi sangat sulit menjadi nol. Sebab itu, ada yang namanya ketetapan pada ambang batas. Dan dari sini memang tidak ada satupun gas yang boleh sekali untuk melebihi dari ambang batas tersebut. Dan jika nantinya ada yang kadarnya jauh lebih tinggi, maka gas-gas ini mampu menyebabkan kematian bagi si penggali tambang itu sendiri. 

Selain itu, risiko lainnya seperti tempat yang dilalui akan sangat berdebu dan membuat kesehatan dari para penggali ini selalu dipertanyakan. Sebab itulah, sehabis mereka menggali sebisa mungkin untuk mendapatkan oksigen bersih kembali. Terima Kasih..