Konglomerat Batu Bara di Indonesia

Dari banyak pro dan juga kontra yang ada, bisnis batu bara merupakan sebuah bisnis yang tetap menjadi komoditas yang paling banyak digeluti oleh para konglomerat di tanah air. Bahkan harta kekayaan dari para konglomerat yang ada di Indonesia ini sebagian berasal semuanya dari bisnis batu bara. Siapa sajakah para konglomerat batu bara yang ada Indonesia?

Konglomerat Batu Bara di Indonesia

Batu bara atau disebut juga dengan istilah emas hitam memang merupakan menjadi komoditas yang cukup populer, khususnya di kalangan para pebisnis. Selain batu bara mampu membuat kaya raya banyak orang, berbisnis batu bara juga dapat membuka lahan pekerjaan bagi banyak oran. Kehadiran dari bisnis batu bara ini tentunya cukup kontroversial. Namun seiring banyak disebut-sebut sebagai sebuah bisnis yang merusak lingkungan. Nah, berikut inilah nama beberapa konglomerat batu bara yang berasal dari Indonesia.

Low Tuck Kwong, Rp 34 triliun

Menjadi orang kaya dan juga sukses menjadi agen sbobet sebuah hal yang tentunya tidak bisa didapatkan secara instan. Semuanya harus dilakukan butuh proses serta pengorbanan. Hal itu juga yang dirasakan oleh seseorang Low Tuck Kwong yang sejak remaja didinya sudah terjun di dunia bisnis mengikuti jejak orang tuanya. Sejak 1972 ia pindah dari Singapura ke Indonesia dan kemudian resmi menjadi warga negara Indonesia yaitu pada 1992.

Berawal dirinya sebagai seorang kontraktor bangunan, Low Tuck akhirnya mengakuisisi sebuah perusahaan tambang batu bara dari PT Gunung Bayan Pratamacoal dan juga PT Dermaga Perkasapratama pada tahun 1997. Setelah itu, ia kemudian mengoperasikan terminal batu bara yang berada di Balikpapan, Kalimantan.

Lambat laun ia pun membentuk sebuah perusahaan PT Bayan Resources yang menjadi perusahaan induk dari banyak perusahaan lainya, yaitu lebih dari 15 perusahaan tambang di Indonesia. Data Forbes juga mencatat jika pada saat ini Low Tuck Kwong memiliki total kekayaan yaitu mencapai sekitar 2,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 34 triliun. Low juga dinobatkan sebagai salah satu dari orang paling kaya di Indonesia dan menduduki peringkat ke-11 pada 2018.

Garibaldi “Boy” Thohir, Rp24,2 triliun

Pria yang akrab juga disapa Boy Thohir ini memiliki kekayaan yang mencapai 1,7 miliar dolar AS atau setara Rp 24 triliun. Boy Thohir yang tercatat juga sebagai orang terkaya di peringkat ke-16 menurut majalah Forbes. Dirinya merupakan salah satu pemilik saham terbesar Adaro Energy, perusahaan induk yang banyak memiliki entitas atau juga anak usaha.

Adapun beberapa perusahaan pertambangan yang juga di bawah Adaro Group antara lain PT Semesta Centramas (SCM), dan iuga PT Paramitha Cipta Sarana (PCS). Ada juga PT Mustika Indah Permai (MIP) serta PT Bukit Enim Energi (BEE) dan masih banyak lagi. Selain perusahaan tambang, Boy juga ternyata masih punya banyak perusahaan lainnya, salah satunya adalah sebuah startup yang sedang dibangunnya melalui aplikasi Umma.

Boy Thohir yang merupakan kakak kandung dari Erick Thohir yang pada saat ini menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara ke-9. Dari Kabinet Indonesia Maju yang telah dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 23 Oktober 2019. Keduanya memang merupakan sama-sama pengusaha, meski mereka berdua bergerak di sektor yang berbeda. Jika Boy Thohir yang lebih bergerak ke pertambangan, maka Erick bergerak di dalam bisnis media, hiburan dan olahraga.

Theodore Rachmat, Rp24,2 triliun

Perusahaan tambang batu bara yang dimiliki oleh pengusaha kaya Theodore Rachmat adalah Padang Kurnia Group yang didirikan pada tahun 2002. Perusahaan ini yang mulai mengeksplorasi tambah pertamanya yaitu di Kalimantan Selatan. Kapasitas batu bara yang yang diperolehnya pada saat itu berhasil mencapai 15 juta ton per tahun. Berkat bisnis batu baranya tersebut, Theodore memiliki harta kekayaan yaitu mencapai 1,7 juta dolar AS atau yang setara dengan Rp 24,2 triliun. Kekayaannya menurut Forbes tercatat berada di peringkat ke-17 persis di bawah kekayaan Boy Thohir.

Selain dirinya memiliki perusahaan tambang, ia juga mempunyai banyak sektor bisnis lainnya di dalam Triputra Group. Beberapa diantaranya terdiri dari sektor agribisnis, manufaktur, perdagangan, jasa, institusi dana pensiun hingga dirinya memiliki yayasan. Theodore juga memiliki sejumlah saham minoritas di dalam perusahan PT Adaro Energy Tbk dan menjabat sebagai wakil presiden dan juga komisaris di perusahaan tersebut.

Kiki Barki, Rp21,3 triliun

PT Harum Energy Tbk juga pernah mengharumkan namanya menjadi salah satu orang yang paling tajir di Indonesia. Bisnis batu bara yang sudah dilakoninya tersebut menjadikan ia mempunyai kekayaan mencapai sekitar 1,5 juta dolar AS, dan menurut Globe Asia kekayaan tersebut ditaksir sekitar Rp 21,3 triliun. Sekarang, perusahaannya ia serahkan kepada anaknya yaitu Lawrence Barki untuk dikelola.

Perusahaan ini berlokasi di Kalimantan Timur, Indonesia. Pada Mei 2019 lalu, keluarga Barki melalui anak usahanya yaitu PT Karunia Bara Perkasa kembali menambah kepemilikan sahamnya tersebut hingga mencapai Rp21,79 miliar atau yang setara dengan 16,2 juta lembar saham. Itu artinya saham milik Karunia Bara atas Harum Energy bertambah dari yang tadinya 74,05 persen menjadi 74,65 persen.

Haji Isam

Haji Isam, nama aslinya yaitu Andi Syamsuddin Arsyad ini merupakan salah satu pengusaha batu bara yang berasal dari Kalimantan Selatan. Selain itu, ia juga diketahui memiliki bisnis di bidang transportasi darat, laut, dan juga udara. Tak lahir dari orang kaya, namun berkat kegigihan dan juga kerja kerasnya, orang yang dahulu berprofesi sebagai sopir truk pengangkut kayu ini mampu menjalani hobinya yang sangat mahal, yakni off road.

Bukan hanya memiliki sederet koleksi mobil mewah, Haji Isam juga memiliki rumah dengan luas 20 hektar. Mengutip dari MoneySmart, pendiri dari Jhonlin Group ini disinyalir pernah meraup omzet hingga Rp40 miliar per bulan lho.

Indika Energy – Sudwikatmono

Perusahan batu bara berikutnya yang juga dimiliki oleh salah satu konglomerat adalah PT Indika Energy Tbk (INDY). Perusahaan tambang tersebut dimiliki secara tidak langsung melalui Indika Inti Investindo oleh Agus Lasmono Sudwikatmono, yang merupakan putra bungsu dari konglomerat Sudwikatmono.

INDY merupakan entitas dari induk perusahaan PT Petrosea Tbk (PTRO). Meskipun begitu, kinerja dari INDY sepanjang tahun 2020 tidak lebih baik daripada Petrosea. Pasalnya adalah INDY menelan rugi sebesar yaitu sekitar US$21,92 juta atau setara Rp324 miliar pada semester ke I tahun 2020. Padahal, semester I 2019 lalu INDY yang masih untung sebesar US$12,67 juta.

Anjloknya laba tersebut tentunya tidak terlepas dari pendapatan perusahaan yang tertekan dampak pandemi Covid-19. Jika dibedah, sumber-sumber pendapatan INDY juga sempat kompak mengalami penurunan dalam enam bulan pertama tahun ini.

Kinerja keuangan INDY yang sekarang ini kian tertekan ketika beban penjualan, umum, dan juga administrasi membengkak dari awalnya US$71,65 juta pada tahun lalu kemudian menjadi US$76,69 juta pada tahun ini. Untungnya, beban pokok dari penjualan yang masih mampu diperbaiki dari awalnya US$1,45 miliar pada Juni 2019 menjadi US$954,65 juta pada Juni 2019. Begitu pun juga dengan beban keuangan mereka.

Nah itulah beberapa crazy rich di Indonesia yang kaya, berkat bisnis batu baranya. Siapapun juga bisa menjadi orang kaya asalkan mereka berani belajar dan memulai sebuah usaha dari nol dengan tekad yang kuat dan juga dengan pantang menyerah. Semoga artikel ini nantinya dapat menginspirasi anda semua. Terimakasih.